Beranda Bolmong Empat Kriteria Pemimpin dalam Budaya Mongondow

Empat Kriteria Pemimpin dalam Budaya Mongondow

0
BAGIKAN
Chairun Mokoginta
BOGANINEWS, BOLMONG – Kultur dan budaya masyarakat Bolaang Mongondow hingga saat ini masih tetap terjaga dan belum tergerus dengan berkembangnya peradaban. Jika kita menelisik lebih jauh kehidupan masyarakat Mongondow, maka berbagai aspek dan sendi kehidupan masih berpegang teguh dengan budaya khas ke Mongondow.
Dalam urusan kepemimpinan atau pemimpin, masyarakat Mongondow sudah berabad-abad mengenal dengan namanya demokrasi. Bahkan dalam sejarah Mongondow urusan demokrasi sudah dikenal dengan nama Mobakid (Musyawarah) untuk menyelesaikan berbagai persoalan termasuk memilih pemimpin. Untuk pemimpin yang nantinya akan dipilih, ada kriteria-kriteria yang sudah disepakati.
Menurut peneliti sejarah, budaya dan adat Mongondow, Chairun Mokoginta yang telah meneliti sejarah, budaya dan adat Mongondow sejak tahun 1970 terdapat Empat kriteria pemimpin dalam kebudayaan Bolaang Mongondow.
Dalam kebudayaan Mongondow hanya memberikan kriteria untuk menjadi pemimpin. Tapi siapa yang di pilih, leluhur kita tidak memberikan batasan. Kriteria pertama, Moko Dotol dalam bahasa Mongondow atau patriotisme. Ini adalah pemimpin yang mampu menjaga wilayah, rasa aman dan tentram kepada masyarakat. Kedua Moko Rakup atau mengayomi seluruh anggota masyarakat. Ini berkaitan dengan pemenuhan masalah ekonomi. Ketiga, Mokodia atau amanah. Ini dalam perspektif budaya Mongondow, lebih kepada konsistensi. Dan yang keempat, Moko Anga atau simpatik. Artinya baik dari sikap dan perilaku, maupun dalam hal kesiapan fisik atau penampilan fisik. Kriteria ini dipakai waktu dahulu pengkaderan menjadi Bogani.
“Saya sebagai peneliti kebudayaan memang belum mendapatkan sebuah patokan atau prinsip kita harus memilih si ini atau si itu,” akunya.
Bahkan diungkapkannya, di dalam berbudaya orang Mongondow mengutamakan Tiga hal. Pertama Mo’o ulean atau bila terjadi gesekan dan benturan sesama, maka diselesaikan secara damai. Misalnya, Ule Dikapa Natua atau saling menasehati. Kedua, Mo’o Aheran atau saling menghargai. Jadi orang Mongondow itu saling menghargai. Siapa pun yang datang ke Mongondow harus di terima. Tapi tentunya saudara-saudara kita yang di luar harus menghargai adat dan kebudayaan Mongondow. Ketiga, Mobo Bangkalan atau saling menghormati. Artinya yang muda hormat kepada yang tua. Anak kepada orang tua, masyarakat kepada pemimpin dan masyarakat kepada pendatang harus saling menghormati.
Diakuinya sejak meneliti sejarah dan kebudayaan Boalang Mongondow  tahun 70-an hingga saat ini, ia tidak menemukan ada keharusan bahwa orang Mongondow harus memilih Mongondow. “Karena kriterianya hanya empat. Kalau ada kriteria ke lima bahwa orang Mongondow harus pilih Mongondow, itu tidak ada. Adat dan kebudayaan Mongondow dari ribuan tahun hingga saat ini masih relevan kita gunakan. Baik dalam perspektif NKRI dan kemasyarakatan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, jika melihat semboyan-semboyan Mongondow, tidak satu pun melarang untuk tidak menerima orang dari luar. “Kalau ada yang bisa memberikan referensi, maka   perlu dipertanyakan dari mana ia dapatkan. Sebab dari hasil penelitian, saya tidak menemukan hal tersebut,” ungkap Chairun Mokoginta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.